Beritanasional

PHK – Inflasi di Kalimantan Selatan: Menjaga Optimisme dengan Penguatan Ekonomi Daerah

17
×

PHK – Inflasi di Kalimantan Selatan: Menjaga Optimisme dengan Penguatan Ekonomi Daerah

Share this article

Penulis: MW

PHK – Inflasi di Kalimantan Selatan: Menjaga Optimisme dengan Penguatan Ekonomi Daerah
Gambar merupakan ilustrasi menggunakan AI

Banjarbaru, habarbanjar — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai daerah sepanjang awal tahun 2026 menjadi salah satu tantangan ketenagakerjaan nasional. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan sebanyak 23.470 pekerja mengalami PHK selama periode Januari–Mei 2026. Dari jumlah tersebut, Provinsi Kalimantan Selatan menempati posisi keempat nasional dengan 1.841 pekerja terdampak, berada di bawah Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur. Kondisi ini menempatkan Kalimantan Selatan sebagai salah satu provinsi yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap stabilitas sektor ketenagakerjaan.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah isu multi-sektoral. Praktisi dan pakar bisnis seperti Sarman Simanjorang menegaskan bahwa akar masalahnya bukan hanya soal inflasi, melainkan kombinasi kompleks dari tekanan biaya produksi, pelemahan daya beli, efisiensi perusahaan, lesunya permintaan, dan disrupsi ekonomi global

Inflasi Menjadi Salah Satu Faktor Tekanan

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan menegaskan bahwa pergerakan inflasi di wilayah ini masih berada dalam koridor yang aman dan terkendali. Meskipun menempati posisi tertinggi di Pulau Kalimantan dengan inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 4,47 persen pada Juni 2026, laju inflasi kumulatif sepanjang semester pertama (Januari–Juni 2026) relatif stabil di angka 2,22 persen.

Kepala BPS Kalsel, Mukhammad Mukhanif, menyatakan bahwa situasi di lapangan sejauh ini tidak mengkhawatirkan. Fokus utama saat ini adalah mencegah terjadinya lonjakan harga kebutuhan pokok secara terus-menerus.
“Secara keseluruhan inflasi kita masih dalam kategori aman. Kita terus berupaya menjaga agar jangan sampai terjadi kenaikan yang terus-menerus pada harga-harga kebutuhan di lapangan,” kata Mukhanif.
Menurut penjelasan Mukhanif, gejolak inflasi kali ini dipicu oleh sejumlah komoditas utama. Beberapa di antaranya meliputi bahan pangan seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan ikan papuyu, serta didorong oleh sektor transportasi dan fluktuasi harga emas.

Intervensi Pasar dan Imbauan Hindari Panic Buying

Guna meredam gejolak harga, BPS bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Kalsel melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menggencarkan berbagai langkah intervensi. Upaya ini difokuskan pada pengamanan rantai pasok agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di pasar. Di sisi lain, Mukhanif juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyikapi situasi ini secara berlebihan. Ia mengimbau warga untuk berbelanja dengan bijak dan menghindari aksi borong (panic buying). “Perilaku memborong komoditas tertentu justru bisa merusak jalur distribusi barang di pasar. Dampaknya, hal itu berpotensi memicu lonjakan harga yang tidak wajar,” pungkasnya.

Struktur Ekonomi Kalsel Perlu Terus Diperkuat

Kalimantan Selatan selama ini dikenal memiliki perekonomian yang ditopang oleh sektor pertambangan, perdagangan, pertanian, perkebunan, serta industri pengolahan. Struktur ekonomi seperti ini memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan daerah, namun juga memiliki kerentanan ketika harga komoditas dunia mengalami perlambatan atau ketika biaya produksi meningkat.

Berbagai kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa daerah-daerah yang masih bergantung pada sektor komoditas primer perlu mempercepat diversifikasi ekonomi agar lebih tahan menghadapi guncangan eksternal. Pengembangan industri hilir, UMKM, ekonomi kreatif, hingga transformasi digital menjadi salah satu strategi penting untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih berkelanjutan.

Di sisi lain, BPS juga secara konsisten menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga merupakan salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, menjaga daya beli masyarakat menjadi bagian penting dalam mempertahankan aktivitas ekonomi sekaligus mencegah tekanan lebih lanjut terhadap dunia usaha.

PHK Menjadi Alarm, Bukan Akhir, Menjaga Optimisme di Tengah Tantangan

Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, Kalimantan Selatan memiliki modal yang cukup kuat untuk bangkit. Infrastruktur yang terus berkembang, posisi strategis di Pulau Kalimantan, potensi sumber daya alam, serta meningkatnya peluang investasi seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.

Yang diperlukan saat ini bukan sekadar merespons angka PHK, melainkan memperkuat fondasi ekonomi agar lebih adaptif terhadap perubahan. Stabilitas harga, pengendalian inflasi, peningkatan produktivitas industri, serta penciptaan lapangan kerja baru perlu berjalan secara beriringan.

Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, tantangan ketenagakerjaan yang terjadi pada 2026 diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun ekonomi Kalimantan Selatan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *