
Banjarbaru, habarbanjar — PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan memastikan ketahanan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan berada dalam kondisi aman dan terkendali. Langkah tersebut sejalan dengan percepatan implementasi program bauran energi terbarukan Biodiesel B50 di seluruh kabupaten dan kota di Banua.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Arya Yusa Dwicandra, mengungkapkan bahwa secara umum ketahanan stok operasional BBM di Kalsel saat ini terjaga dalam batas ideal, yakni antara 16 hingga 20 hari.
“Untuk jenis gasoline seperti Pertalite, ketahanan stok berada di kisaran 16 hingga 18 hari. Sementara untuk BBM jenis gasoil atau Solar serta varian non-subsidi berada pada ketahanan 18 hingga 20 hari. Pasokan ini disalurkan secara berkala melalui Integrated Terminal Banjarmasin dan Fuel Terminal Kotabaru,” ujar Arya.
Arya menambahkan, Pertamina terus memantau pergerakan konsumsi masyarakat guna mengantisipasi adanya dinamika shifting atau peralihan penggunaan dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi akibat disparitas harga di pasaran.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Isharwanto, menegaskan bahwa Kalsel memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung kebijakan mandatori B50 nasional. Keberadaan pabrik pengolahan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di wilayah pesisir Kalsel dinilai memperkuat keandalan rantai pasok.
“Kalimantan Selatan merupakan salah satu produsen CPO terbesar. Keberadaan industri pengolahan FAME lokal membuat pasokan bahan baku biofuel B50 lebih terjamin dan efisien secara logistik,” kata Isharwanto.
Meski demikian, pihak Pemprov Kalsel bersama Pertamina terus mengawal efektivitas penyaluran agar tidak terjadi ketimpangan antarwilayah, terutama untuk daerah hulu sungai atau Banua Enam.
“Pemerataan distribusi terus diakselerasi. SPBU di kawasan perkotaan hingga wilayah pedalaman seperti Hulu Sungai Utara secara bertahap terus disuplai agar seluruh sektor kegiatan ekonomi masyarakat mendapatkan akses B50 secara merata,” lanjutnya.
Sementara itu, berkaitan dampak teknis penggunaan B50 pada mesin kendaraan logistik dan alat berat di sektor industri serta pertambangan, Dinas ESDM Kalsel mengimbau para pelaku usaha untuk menyesuaikan prosedur pemeliharaan kendaraan.
Kandungan FAME sebesar 50 persen memiliki sifat pelarut (solven) yang cukup kuat, sehingga berpotensi membersihkan endapan lama pada tangki bahan bakar yang dapat menyebabkan penyumbatan filter di awal masa transisi.
“Kami mengimbau para pemilik armada angkutan dan operator alat berat untuk memperketat jadwal maintenance. Pada 100 hingga 200 jam operasional pertama penggunaan B50, pemeriksaan dan penggantian fuel filter perlu dilakukan lebih sering. Selain itu, pembersihan water separator secara rutin sangat krusial untuk mencegah akumulasi kadar air pada tangki,” imbau Isharwanto.
Diharapkan sinergi antara keandalan pasokan Pertamina, pengawasan pemerintah daerah, serta kesiapan teknis para pelaku industri, Kalimantan Selatan optimistis mampu menjadi salah satu daerah percontohan suksesnya transisi energi hijau di Indonesia.











