
HabarBanjar – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengonfirmasi telah terdeteksinya varian Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia sejak 25 Desember 2025. Temuan tersebut merupakan hasil pemantauan rutin nasional yang dilaporkan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan.
Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus Influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Tiga wilayah dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur sebanyak 23 kasus, Kalimantan Selatan 18 kasus, dan Jawa Barat 10 kasus. Sementara Sumatera Selatan mencatat lima kasus, serta masing-masing satu kasus ditemukan di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.
Berdasarkan karakteristik pasien, mayoritas kasus dialami perempuan dengan proporsi 64,5 persen. Dari sisi usia, kelompok anak 1 hingga 10 tahun menjadi yang paling terdampak dengan persentase 35,5 persen, disusul kelompok usia 21–30 tahun sebesar 21 persen dan usia 11–20 tahun sebesar 19,4 persen. Kelompok lanjut usia di atas 60 tahun menyumbang 8,1 persen dari total kasus.
Kemenkes menegaskan keberadaan subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman lainnya. Mengacu pada penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan data epidemiologi yang tersedia, gejala yang ditimbulkan umumnya berupa demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan, serta kelelahan berat.
Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan beredar di lebih dari 80 negara. Di kawasan Asia, varian ini telah ditemukan di China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand. Istilah “super flu” sendiri bukan terminologi medis resmi, melainkan sebutan populer yang muncul akibat tingkat penularannya yang relatif tinggi.
Peningkatan kasus influenza pada akhir 2025 dipengaruhi oleh kombinasi perubahan musim hujan, suhu yang lebih dingin, serta faktor polusi udara yang mempercepat penularan infeksi saluran pernapasan. Di Indonesia, hasil surveilans menunjukkan Influenza A(H3) menjadi varian yang paling dominan beredar.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. Masyarakat juga diminta tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, serta menerapkan etika batuk dan bersin guna menekan penyebaran virus.